Kejatuhan Cicak, Sinyal Ketiban Sial?

Cicak memang bukan jenis hewan yang biasa dikeramatkan. Orang tidak takut membunuh, atau menjadikannya sebagai santapan kucing atau hewan piaraan lain. Mereka juga tidak merasa khawatir apa-apa jika tanpa sengaja menginjak cicak. Anehnya, begitu kejatuhan cicak, banyak yang ketakutan, hati berdebar, jantung berdegup dengan kencang. Disangkanya itu adalah sinyal bakal hadirnya nasib sial. Seperti meninggalnya sebagian anggota keluarga, atau musibah lain. Mereka pun mengistilahkan ini dengan firasat.

Antisipasi pun segera dilakukan. Caranya pun bermacam-macam. Bahkan, ada yang berusaha menangkap cicak yang menimpa dirinya, lalu disobek mulutnya. Cara itu dianggap bisa menjadi penawar sial. Sebagian lagi melakukan ruwatan. Dan, ada pula yang melarang keluarganya bepergian, karena takut ditimpa kesialan seperti kecelakaan dan semisalnya.

Inilah yang disebut dengan thiyarah, mengkaitkan datangnya sial maupun kemujuran berdasarkan sinyal dari suara burung atau yang semisalnya. Termasuk mengkaitkan akan datangnya kesialan dengan jatuhnya cicak mengenai tubuhnya, karena tidak ada kaitan antara keduanya. Ini termasuk kesyirikan. Nabi SAW bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, maka dia  telah berbuat syirik”. (HR Ahmad)

Thiyarah berbeda dengan firasat. Firasat itu berupa rasa tidak nyaman, keraguan yang datang tiba-tiba, atau feeling tertentu tanpa menandai perilaku hewan tertentu dengan  kejadian tertentu yang memang tak ada hubungannya secara logis maupun berdasarkan dalil. Semua ‘kesaksian’ yang mengkaitkan antara keduanya hanyalah kebetulan. Faktanya, banyak yang kejatuhan cicak, namun tidak diiringi dengan musibah yang menimpa. Banyak pula yang tertimpa musibah, padahal tidak kejatuhan cicak sebelumnya.

Lalu, bagaimana jika hati terlanjur berdebar, atau takut karena tiba-tiba cicak jatuh di kepala? Menyobek mulut cicak adalah penyiksaan, tidak pula mencegah dari kesialan jika harus terjadi. Dan yang fatal, hal itu juga menjerumuskan ke dalam syirik. Tak ada hubungan antara musibah dengan mulut cicak.  

Nabi SAW ditanya tentang kafarah bagi orang yang terlanjur melakukan ‘thiyarah’, Beliau SAW menjawab, hendaknya dia membaca,

 اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ya Alloh, tidak ada keburukan, kecuali telah Engkau tetapkan. Dan tidak ada kebaikan, kecuali telah Engkau tetapkan. Dan tidak ada Tuhan selainMu (yang berhak disembah).“ (HR: Imam Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani dalam Al-Ahadits ash-Shahihah)

Semoga Allah melindungi kita dari syirik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *