Pailit Karena Pelit

Allah mengisahkan, tentang pemilik-pemilik kebun yang bakhil dan tidak sudi mendermakan sebagian rejekinya kepada fakir miskin dan bagaimana kesudahan mereka, dalam surat Al-Qalam ayat 17-33.

Allah kisahkan,  “Ketika mereka bersumpah”, yakni berjanji diantara mereka, “Bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya pada pagi hari”. Niatan mereka melakukan supaya orang-orang fakir dan orang yang membutuhkan tidak melihat mereka panen sehingga tidak perlu memberikan sebagian hasil kebun itu kepadanya. Atas rencana yang didasari oleh kebakhilan ini, Allah pun menggagalkannya. Allah menurunkan bencana kepada mereka, di mana tiba-tiba kebun itu menjadi hangus, tak ada sisa yang bisa dipanen dan tidak bisa diambil manfaatnya sedikit pun. “Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain, seraya berkata, “Pergilah pada waktu pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”. Yakni, berangkatlah pagi-pagi ke kebunmu lalu petiklah hasilnya sebelum datang waktu siang dan sebelum datang pula orang yang meminta-minta.

“Maka, pergilah mereka saling berbisik.” Mereka saling berkata di antara mereka dengan cara rahasia. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Mereka berjalan pergi ke kebun itu dengan niat buruk, padahal sebenarnya mereka mampu memberikan sebagian hasilnya kepada orang miskin. Ikrimah dan asy-Sya’bi mengatakan, “Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi orang-orang miskin.” Artinya mereka tidak menyukai kedatangan orang-orang miskin. “Tatkala mereka melihat kebun itu”, yakni sebelumnya mereka melihat kebun itu dengan penuh suka cita; buah-buahan yang banyak dan bagus, lalu ternyata kebun itu berubah drastis, disebabkan jeleknya niat mereka. “Kemudian mereka berkata, Sesungguhnya, kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan) bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).”

Pailit Karena Pelit

Terdapat peringatan bagi siapapun yang pelit atau bahkan baru berniat untuk menahan pemberian kepada yang membutuhkan, Allah akan gagalkan apa yang mereka inginkan.

Hakikatnya, orang pelit itu menganggap bahwa apa yang didapatkan itu semata karena jerih payahnya, karenanya ia bisa menggunakan semua hasilnya untuk apa yang dia suka. Dia lupa, bahwa segala yang ia dapatkan itu adalah karunia dari Allah, yang semestinya dikelola sesuai dengan kehendak Yang Memberinya.

Dia juga lupa, sebagaimana Allah kuasa memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki, maka Dia juga kuasa untuk mencabut kapan saja dari tangan siapapun. Apalagi dari orang yang telah menyalahgunakan pemberian-Nya dan tidak menunaikan sebagaimana mestinya.

Karena balasan itu setimpal perbuatan, maka orang yang berlaku pelit akan Allah ganjar dengan pailit dan kerugian. Maksud si pelit dengan menyimpan dan menumpuk hartanya tanpa menunaikan kepada yang berhak adalah untuk mendapat keberuntungan, maka yang didapatkan adalah kerugian. Allah Ta’ala berfirman,

“dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah yang Maha kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya). Dan Allahlah yang Maha kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS. Muhammad: 38)

Maknanya siapapun yang kikir, tidak mau mengeluarkan infak di jalan Allah, maka kerugian yang diakibatkan kebakhilan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena ia sendiri yang menghalangi pahala dan balasan dari Allah. Allah sama sekali tidak membutuhkan infak yang ia keluarkan. Bahkan dirinyalah yang butuh terhadap kemanfaatan harta tersebut. Maka tatkala seseorang berpaling dari taat kepada Allah dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, Allah akan gantikan ia dengan kaum lain yang akan mendapatkan manfaat lantaran lebih taat kepada Allah daripada dirinya.

Orang yang membahagiakan dirinya dengan jalan kikir terhadap hartanya, justru hartanya menjadi sebab tersiksanya batin dengan akutnya kekhawatiran sebagian hartanya akan berpindah ke orang lain. Padahal perpindahan itu pasti, cepat ataupun lambat.

Allah juga menjanjikan kesulitan hidup yang akan dialami oleh orang yang bakhil,

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al Lail : 7-9)

Allah menyandingkan antara sifat bakhil dengan istighna’ (merasa tidak butuh) dan juga mendustakan pahala. Karena ketika seseorang terjangkiti sifat bakhil, maka mereka tidak butuh kemurahan Allah, tidak butuh arahan dan petunjuk-Nya. Ia merasa bahwa rejeki itu karena usahanya, ia merasa mampu menentukan nasib sendiri tanpa pertolongan Allah. Ia juga disifati dengan mendustakan pahala yang terbaik, karena seandainya ia membenarkan, tentulah dia akan bersedekah dan menunaikan hak harta agar bermanfaat baginya di akhirat. Itulah sebabnya Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan ‘wash shadaqatu burhan’, dan sedekah adalah bukti, yakni burhan ‘ala shidqi iimaanihi, bukti akan ketulusan dan kejujuran imannya.

Lalu Allah membalas sikap mereka yang merasa mampu menentukan nasib sendiri tanpa pertolongan Allah itu dengan kesulitan. Ibnu Abbas menjelaskan ayat tersebut, “Bakhil terhadap hartanya dan tidak sudi menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak percaya adanya surga dan nikmatNya, maka akan Kami persiapkan untuknya nasib yang menjadikannya senantiasa dalam kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat.”

Itulah serentetan kerugian ‘maknawi’ yang diderita oleh orang bakhil selagi masih di dunia sebagaimana mereka juga akan mengalami pailit secara materi. Bagaimana akan beruntung orang yang setiap harinya didoakan malaikat supaya pailit dan bangkrut? Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Nabi bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

”Tiada datang pagi hari yang dilalui hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ”Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) baik orang yang berderma.” Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, ”Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)

Pailit di Akhirat

Sifat kikir menyebabkan seseorang menjadi fakir terhadap kebaikan, dan kaya akan dosa dan kesalahan. Karena sifat ini mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta, lalu berpaling dari apa yang diperintahkan kepadanya. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang fana. Maka kelak, sebagai balasannya, harta yang mereka tumpuk itu menjadi malapetaka bagi mereka,

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. at-Taubah: 35)

Kabar yang mengerikan disebutkan juga oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa diberi harta oleh Allah namun dia tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat harta itu akan diserupakan untuknya berupa ular botak yang memiliki bisa di kedua sisi mulutnya. ia akan melilitnya pada hari kiamat kemudian mematok dengan rahangnya seraya berkata, ‘Aku adalah hartamu, aku adalah harta yang kamu tumpuk-tumpuk, Kemudian beliau membaca, ‘Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil mengira ..hingga firman-Nya, “ harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat..”  (Ali Imran : 180)

Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat kikir; baik yang berkaitan dengan harta, tenaga, pikiran dan berbagai kemudahan yang Allah anugerahkan kepada kita, aamiin.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *